Posted in Movie

Cinta Seorang Ayah dalam “Dangal”

Pemeran

  • Amir Khan as Mahavir Singh
  • Zaira Wasim as Gheeta remaja
  • Fatima Zana as Gheeta Dewasa
  • Suhani Bhatnagar as Babita remaja
  • Sanya Malhotra as Babita Dewasa

Semua Film garapan Amir Khan emang nggak pernah mengecewakan. Lihat saja 3 Idiot dan Taare Zameen Par yang pesannya tersampaikan dengan baik. Tanpa romantisme yang menye-menye namun sukses bikin penontonnya nangis sesenggukan. Sama seperti kedua film tersebut Dangal juga sukses bikin saya mewek sampai sesenggukkan. Bedanya, Dangal bukan kisah fiksi namun sebuah kisah nyata dari seorang pegulat nasional India Mahavir Singh Pogat yang berhasil melatih dua anak perempuannya menjadi pegulat kelas dunia.

Mahavir yang tak bisa meneruskan cita-citanya menjadi pegulat kelas dunia karena faktor ekonomi yang memaksanya untuk keluar dari dunia olahraga dan bekerja di kantor pemerintah, berharap mempunyai seorang anak laki-laki untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Namun takdir berkata lain, dia hanya dikaruniai anak perempuan. Harapannya untuk mempunyai anak lelaki yang akan dia latih menjadi pegulat dunia pupus sudah.

Continue reading “Cinta Seorang Ayah dalam “Dangal””

Posted in Books

Mengenal Afganistan dalam Selimut Debu

Menyusuri setiap sudut Afganistan membuat saya sedikit berimaji tentang Indonesia saat awal kemerdekaan. Kemiskinan dan kelaparan di mana-mana. Semua sibuk mengeluh tentang harga pangan yang sangat mahal. Negara-negara berdatangan memberi bantuan, namun nyatanya hanya beberapa persen saja yang benar-benar tersalurkan.

Mengikuti petualangan Agustinus Wibowo menapaki setiap lekuk Afganistan, memberikan banyak sekali pandangan baru tentang sebuah negara yang baru saja usai dilanda perang. Tentang gerakan ekstrem Taliban yang ditentang juga di puja oleh sebagian orang. Tentang sebuah keyakinan yang mampu menghidupkan dalam kondisi yang mematikan.

Meski memiliki keyakinan yang sama, namun konflik tetap saja mampu memisahkan. Keegoisan. Menomor satukan kelompoknya daripada yang lain. Merasa paling benar dan superior.

Meski nampak mengerikan dari luar, nyatanya orang Afghan memiliki keramahtamahan yang tak dimiliki negara-negara maju lainnya. Mereka sangat memuliakan tamu. Jika menjadi tamu mereka, kalian akan dilayani dengan baik.

Seperti halnya di Pakistan. Jalanan dipenuhi oleh kaum pria, hanya ada satu dua saja wanita dalam balutan burqa birunya. Hanya di Kabul saja nampak beberapa wanita dengan jilbab tanpa burqa.

Posted in Tips dan Info

Cara Mengurus Pajak 5 Tahunan di Kota Malang

Bagi pemilik kendaraan bermotor, mengurus pajak 5 tahunan adalah hal yang butuh diperhatikan selain pajak tahunan tentunya. Bulan April kemarin motor beat kesayangan saya sudah habis masa berlakunya alias udah harus ganti plat. Untuk area Malang, tempat mengurusnya di kantor Samsat Jl. S Supriadi 80, Kecamatan Sukun, Malang.

Apa saja yang harus dibawa?

  1. Motor. Karena harus gesek nomor rangkanya.
  2. BPKB asli. Bila BPKB kalian masih di dealer kalian bisa minta fotocopiannya dengan surat keterangan bahwa BPKB masih berada di dealer.
  3. STNK.
  4. KTP sesuai nama di STNK.
  5. Alat tulis, ini penting banget karena nanti banyak mengisi blangko dan tidak disediakan alat tulis di sana.

Continue reading “Cara Mengurus Pajak 5 Tahunan di Kota Malang”

Posted in Cerita Pendek

Jaga Malam

Malam semakin larut, Rudi masih terjaga dengan buku di tangannya. Beberapa hari ini Rudi harus rela terjaga saat malam. Dia harus menunggui ibunya yang sedang terbaring sakit di rumah sakit umum di kotanya. Dua hari yang lalu ibunya mendapat rujukan untuk rawat inap di rumah sakit ini.

Awalnya ibunya dirawat di rumah sakit yang tak jauh rumahnya, namun karena keterbatasan alat sehingga harus dirujuk ke rumah sakit kota. Rumah Rudi sendiri berada di perbatasan kota dan kabupaten, sekitar 30 menit dari rumah sakit kota ini.

Sepulang bekerja Rudi akan pulang sebentar ke rumah untuk mandi, ganti baju lalu berangkat ke rumah sakit untuk menggantikan ayahnya yang jaga sejak pagi. Dia juga membawa bekal yang telah disiapkan buliknya. Sekotak nasi dengan sayur dan lauk dan tak lupa setermos kecil kopi hitam agar kuat melek sampai malam.

Seperti malam-malam sebelumnya, sebuah buku dan secangkir kopi menemaninya berjaga.

“Le”, lirih terdengar suara ibunya memanggil.

“Nggih bu, ada apa?”, ditaruhnya buku yang dia baca di atas meja dan berjalan mendekat ke ranjang ibunya. Namun yang memanggil ternyata matanya masih terpejam. Hembus nafasnya pun pelan teratur. “oalah ngelindur to buk”.

Continue reading “Jaga Malam”

Posted in Cerita Pendek

Kantor Baru #2

21.00 WIB

Suasana kantor masih ramai dengan celotehan orang-orang di dalamnya. Beberapa orang terlihat serius memandang laptop di depannya. Sebagian lainnya nampak sibuk menelepon. Dua tiga orang nampak turun dan naik kembali dengan menjinjing kantong plastik berisi kotak makan.

“Makanan datang”, Willy yang membawa dua kantong plastik berwarna merah berseru ke teman-teman sedivisinya. Semua yang tadinya sibuk dengan kerjaan masing-masing langsung meninggalkan pekerjaan mereka. Tanpa diperintah Amel langsung membantu Willy mengedarkan kotak-kotak nasi ke teman-temannya.

“Makan dulu gaes, nanti dilanjut lagi”, seru Amel dengan girang.

Sudah menjadi kebiasan mereka pulang malam saat akhir bulan. Kecuali bila akhir bulannya bertepatan dengan weekend atau pas tanggal merah. Saat tutup target semua cabang berlomba-lomba mencapai target yang diberikan. Jadi tak heran bila sampai malam pun masih ada transaksi penjualan barang. Karena itu semua yang berada di kantor pusat mengikuti jadwal lembur cabang.

22.00 WIB

“Yeah, akhirnya kelar juga, aku balik duluan ya”, teriak Amel sambil menguap setelahnya. “Duh ngantuk banget aku”, lanjutnya.

“Rey, mau pulang bareng gak?”, tanya Amel setelah membereskan barang-barangnya.

“Kamu duluan aja Mel, aku belum kelar nih ngerjain laporan komisi”.

“Ok deh, aku duluan ya”, jawab Amel sambil melenggang pergi.

Satu persatu teman Reya mulai mengemasi barang-barang mereka dan beranjak pulang.

Continue reading “Kantor Baru #2”

Posted in Cerita Pendek

Kantor Baru #1

Setelah beberapa hari kemarin sibuk pindahan, memindahkan berkas-berkas dari gedung lama ke gedung yang baru, kini Reya punya sedikit waktu untuk bersantai. Hari ini dia dan semua rekan kerjanya hanya bekerja setengah hari, itupun tidak benar-benar bekerja. Karena hanya di isi dengan acara syukuran dan doa bersama sebelum menempati gedung baru.

Perusahaan tempat Reya bekerja memang masih belum memiliki gedung sendiri, sehingga masih harus menyewa gedung. Pemilik perusahaan tidak meneruskan kontrak di gedung lama, gosipnya sih karena harga sewanya naik. Padahal gedung lama lumayan luas, punya 6 lantai dan tempat parkir sendiri. Tentunya sangat berbeda dengan gedung baru yang akan mereka tempati sekarang.

Gedung ini mempunyai 8 lantai, namun perusahaan tempat Reya bekerja hanya menyewa 2 lantai saja, yaitu lantai 4 dan 5. Lantai satu dan dua sudah ditempati oleh sebuah Bank swata. Sedangkan lantai tang lainnya masih kosong.

Berbagai jajanan telah disiapkan, tak terkecuali tumpeng dengan nasi kuningnya. Sekitar pukul 10.00 WIB acara di mulai. Setelah sambutan-sambutan, doa bersama acara diakhiri dengan potong tumpeng dan makan bersama.

“Rey, nanti jangan pulang dulu ya. Bantuin saya merapikan berkas-berkas. Sama Amel juga nanti”, kata Pak Hendi yang duduk di sebelahnya.

Continue reading “Kantor Baru #1”

Posted in Cerita Pendek

Sunny Sendiri

sunny
https://www.pexels.com/@lamikoketerangan

Jam di tanganku menunjukkan pukul 18.00 WIB, seharusnya aku sudah berlari ke arah parkiran untuk mengambil motor tapi pekerjaanku masih belum kelar juga. Masih kurang satu lembar lampiran tabel penjualan yang belum selesai. Tanganku mengetik dengan cepat, berusaha menyelesaikannya sebelum pukul 19.00 WIB. “Sepertinya aku akan terlambat datang kesana, semoga dia sabar menunggu”, bathinku.

Ku raih ponsel di sebelah keyboard, kukirimkan pesan kalau pekerjaanku belum juga selesai sehingga membuatku terlambat untuk datang. Tak lama setelah terkirim datang balasan darinya “Iya nggak papa Sun, aku akan menunggumu”. Seketika itu senyumku tersungging, hanya karena sekelumit kata itu. Gini ya rasanya jatuh cinta, apa-apa tentangnya membuat bibir ini tersenyum. Semua terasa manis, membuat hati ini berbunga.

“Ciee yang lagi jatuh cinta, senyum-senyum sendiri”, seloroh gadis di kubikel sebelah, teman kerjaku sekaligus teman curhatku selama ini.

“Apaan sich Mey”, kataku malu-malu.

“Kalian jadi ketemuan hari ini?”

“Yup”, aku menjawabnya sambil tetap fokus melihat layar komputer di depanku.

“Kalo dia jelek gimana?”

Selalu pertanyaan itu yang di tanyakan Mey. Mungkin ini terlihat aneh baginya, aku menyukai seseorang yang belum sekalipun kutemui. Kami saling saling kenal lewat dunia maya. Dan ini nanti merupakan pertemuan pertama kami setelah satu bulan jadian. Aku tak seperti Mey yang harus bertatap muka terlebih dahulu untuk dapat menyukai seseorang. Bagiku cinta itu dari hati, bukan dari fisiknya. Aku sudah merasa nyaman dengannya, obrolan kami pun nyambung.

Namanya Refaldo Abimanyu, aku terlebih dulu mengenal tulisannya sebelum orangnya. Tulisan-tulisannya bagus dan mengena. Topik yang dia bahas pun selalu up to date. Mungkin karena dia seorang jurnalis. Aku jatuh cinta dengan tulisannya, lalu kemudian orangnya.

Karena jadwalnya yang padat dan seringnya dia liputan ke luar kota sehingga kami baru bisa janjian bertemu hari ini. Setelah satu bulan kami saling menyatakan suka.

“Sudah ku bilang berapa kali sich Mey, aku nggak melihat dia dari fisiknya”, jawabku.

“Bagaimana kalau sebaliknya”, katanya.

“Sebaliknya bagaimana?”, aku menatapnya dan memasang raut wajah bingung. Aku tau ke arah mana pertanyaan itu. Aku hanya gadis biasa-biasa saja, bukan gadis populer macam Mey yang di idamkan banyak pria. Di kantor saja banyak yang memanggilku Sunny ndut karena badanku yang sedikit bongsor dan pipi ku yang nyempluk. Padahal berat badanku ideal hanya berlebih sedikit saja.

Pertanyaan Mey tentu saja membuat rasa percaya diriku terkikis. Aku tau dia nggak bermaksud menyakitiku, dia hanya betpikir secara realistis bahwa kebanyakan pria memang menyukai wanita dengan tubuh ideal macam dia. Tapi Aldo berbeda Mey, bagaimana caranya untuk meyakinkanmu? Kamu selalu saja curiga kepadanya. Dia menerimaku apa adanya Mey.

Aku pernah menanyakan padanya tentang ini, atas saranmu juga dulu.
“Aku mencintaimu karena aku mencintaimu Sun, rasa itu tumbuh begitu saja tak bisa dijelaskan. Bukankah memang tak ada alasan untuk mencintai”, jawabnya.

“Aku tak cantik”, nada suaraku sedikit merajuk, mencoba menarik perhatiannya dan tentu juga untuk mengetes perasaannya kepadaku.

“Bagiku kamu cantik. Kepintaranmu memancarkan kecantikanmu Sun, kenapa kamu tiba-tiba jadi tak percaya diri seperti ini. Kamu cantik karena kamu Sun”, kata-katanya meneduhkan hatiku. Lalu, masikah aku harus tak mempercayainya.

“Bukankah aku pernah menceritakan padamu Mey, dia mencintaiku apa adanya”

“Tetaplah berhati-hati Sun, kamu belum benar-benar mengenalnya”, aku mengangguk-angguk menjawab pernyataannya.

Tepat pukul 19.00 WIB laporanku telah selesai, segera ku print dan ku siapkan untuk bahan meeting besok. Kubereskan semua perlengkapanku dan mematikan komputer.

“Aku duluan ya Mey”, pamitku pada Mey yang sedang asik menari-narikan jemarinya di keyboard.

“Yoyoi, semoga lancar Sun”, kulambaikan tanganku dan berlari menuju parkiran.

Aku sampai di caffe tempat kami bertemu lima belas menit kemudian. Langsung saja aku menuju meja dimana dia berada. Letaknya dekat dengan dinding kaca sehingga bisa terlihat dari luar. Jantungku berdegup dengan kencang saat melihatnya duduk dengan segelas kopi di hadapannya. Dia tidak melihatku. Dibalut sweeter dongker dan celana kaki dia terlihat sangat menawan.

Aku mengatur nafasku sebelum berjalan menuju ke mejanya. Kurapikan baju dan rambutku dan melangkah menuju tempatnya duduk.

“Hai Aldo”, sapaku canggung.

Dia menoleh kepadaku, bibirnya langsung tersenyum saat melihatku. Aku duduk di depannya.

“Sorry ya aku lama”, kataku membuka percakapan.

“Nggak papa Sun, aku juga baru datang kok.  Gimana kerjaannya udah kelar?”, tanyanya.

“Udah dong, kalau belum aku ya belum ada disini hehe”, jawabku.

Suasanapun berlahan mulai mencair, kami mengobrol panjang lebar tentang banyak hal. Tak ada yang berubah setelah kami bertemu. Semua sama seperti obrolan kami selama ini di telephon. Kecurigaan Memey yang tak beralasan itu benar benar tak terbukti. Tak ada tanda-tanda dia menjauh atau berpura-pura menyukaiku.

Kami mengobrol hingga pukul 22.00WIB. Dia mengantarku sampai ke parkiran, mengatakan hati-hati di jalan dan menungguku hingga hilang di belokan. Kencan pertamaku berjalan dengan lancar.

Hari-hari setelahnya berjalan seperti biasa. Tiap malam dia tetap menelephonku, bertukar kabar dan membahas apa saja yang bisa kami bahas. Kadang sangking asiknya kami mengobrol hingga tengah malam. Waktu berjalan begitu cepat saat berbincang dengannya. Kami bisa berjam-jam membahas hal yang lagi ngetren saat ini. Membahas pekerjaannya, pekerjaanku, hari-hari yang kulalui dan dia lalui. Cinta lewat dunia maya tak selamanya palsu seperti yang dikatakan Mey.

Tapi entah beberapa hari ini dia jarang sekali menelephonku. Banyak deadline liputan, katanya. Hari demi hari komunikasi kami mulai merenggang. Kini pesankupun lama di balasnya. Aku coba menelephonnya juga jarang di angkat.

“Aku kangen, bisa ketemu nggak sore ini, sepulang kerja”, ku kirimkan pesan singkat ini.

“Ok Sun, di tempat yang kemarin ya”, balasnya.

Sepulang kerja aku segera melajukan motorku ke caffe tempat kami pertama kalinya bertemu. Sesampainya disana belum kulihat dirinya di balik dinding kaca. Aku langsung saja masuk dan duduk di bangku berdinding kaca agar langsung bisa mengetahui saat dia datang. Kupesan secangkir hot chocolate untuk menemaniku menunggunya.

Sudah tiga puluh menit berlalu, habis sudah secangkir hot chocolate di hadapanku. Kulihat ponselku, tak ada pesan yang masuk. Moodku mulai memburuk, ku ambil ponselku dan menelephonnya. Tak ada jawaban. Ku ketikkan pesan singkat menanyakan kepastiannya. Tapi tak kunjung di balas.

Aku berusaha meredam amarahku, kupesan kembali secangkir hot chocolate. Aku mulai sebal tapi aku juga takut. Ketakutanku melebihi amarahku. Aku teringat kata-kata Memey, “Hati-hati Sun, kamu belum begitu mengenalnya. Jangan sampai kamu menjatuhkan hatimu pada orang yang salah”.

Tanda-tanda itu sudah terlihat dengan jelas. Pesanku yang lama sekali di balas, telephonku yang jarang di angkat. Dan obrolan yang mulai singkat-singkat. Dan kini dia tak kunjung datang.

Tring!
Sebuah pesan masuk ke ponselku.
Nama Refaldo Abimanyu terpampang disana. Aku buka pesan darinya. ” Maaf ya Sun, aku nggak bisa datang ada liputan mendadak”.

Jantungku tiba-tiba terasa sesak. Aku tak menyangka ini akan terjadi padaku.  Jantungku rasanya seperti di tekan dengan batu yang besar. Aku tau dia tak akan datang. Aku tau pertemuan pertamaku adalah pertemuan terakhirku. Semua ucapan Memey terbukti kini.

Aku masih duduk di bangku di balik dinding kaca. Melihat lalu lalang kendaraan di jalan raya. Menyelami kesibukan kota yang tak pernah tidur ini. Mencoba memahami hubunganku dengannya. Mencari cintanya yang hanya ada dalam imajiku saja.

 

Posted in Cerita Pendek

Sinar Lampu Blencong

Kerajaan Mataram merupakan kerajaan islam terbesar di pulau Jawa. Wilayahnya hampir mencakup seluruh pulau Jawa kecuali Batavia yang waktu itu dikuasai oleh Belanda. Namun, pada tahun 1755 kerajaan Mataram terpecah menjadi dua yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasultanan Solo. Semua informasi itu tertuang dalam perjanjian giyanti.

Sebenernya aku nggak begitu tertarik dengan sejarah, apalagi cerita kolosal kerajaan. Membosankan. Namun agaknya Museum Ullen Sentalu merubah pandanganku tentang hal itu. Penyajian kisah dan tampilan fisik Museum yang menarik membuatku tertarik untuk lebih tau. Bagaimana kisahnya Kerajaan Mataram yang adigdaya akhirnya terpecah menjadi dua, hingga akhirnya hanya kasultanan Yogyakarta saja yang mampu bertahan sampai saat ini. Itulah kenapa Yoygakarta disebut daerah istimewa, karena sistem pemerintahannya masih menggunakan sistem kerajaan. Pemimpin daerah yaitu Gubernur dan Wakil Gubernur tidak dipilih melalui pemilihan umum tapi diberikan secara turun temurun.

Aku menempuh delapan jam perjalanan untuk bisa sampai di kota tempat Candi Prambanan ini berada dengan menggunakan kereta api Malioboro Express. Sampai Stasiun Tugu nanti aku akan bertemu Wahyu, temanku yang berangkat dari Jakarta. Ini adalah travelling kami yang kedua setelah dari Karimun Jawa dua tahun lalu. Rencananya kami akan menjelajahi pantai, museum dan beberapa tempat wisata lainnya di Jogja.

Continue reading “Sinar Lampu Blencong”

Posted in Bincang-bincang

Kenapa Malang Identik dengan Janc*k?

Saya suka ngerasa aneh gitu ya, kenapa film-film yang menampilkan identitas kota Malang diidentikkan dengan ucapan “Janc*k”. Padahal ya saya ini yang orang Malang aseli, mulai lahir sampai udah gedhe ini hidup di Malang, nggak suka tuh ngomong Janc*k. Malah ngerasa aneh dan risih kalo mau ngomong gitu. Kenapa? Ya karena kata itu merupakan bentuk umpatan yang nggak baik, kasar dan nggak sopan. Dari sedari kecil saya ini nggak pernah diajarin buat ngomong itu, dulu aja kalo ketahuan ngomong gitu pasti di marahin, ya karena itu kata-kata yang memiliki arti jelek. Meskipun kata mbah Tejo nggak selalu artinya jelek.

Sekarang coba perhatikan, beberapa film yang mengambil tema kota Malang pasti dialognya nggak jauh-jauh dari umpatan itu. Seperti “Punk in Love” dan “YO WES BEN”, mereka mengambil tema kota Malang, latar tempat hampir 100% di Malang. Seneng saya tu kalo ada film-film yang nyeritain kota saya tercintah. Ceritanya juga bagus, kocak, meski konfliknya sederhana tapi tetep menarik bagi saya. Ngeliat jalan-jalan yang saya lewati disorot di layar, tempat-tempat yang pernah saya singgahi di pajang di depan, rasanya gimana gitu, kayak saya ikut didalamnya #halah.

Continue reading “Kenapa Malang Identik dengan Janc*k?”